Malam
itu hujan turun begitu lebat, hingga pelataran kosku basah semua. Ya, begitulah
aku hidup di Solo. Jauh dari orang tua dan saudara. “ Ca, kamu mau beli makan
ga?” tanya teman sebelah kamar kosku. Namaku Sasa Anisa. Mereka sering
memanggilku Caca. “ Ngga ah, hujan tu. Aku makan mie instan aja, hehehe “
jawabku.
‘Tut
tut ada sms’ suara hpku berbunyi tanda ada sms masuk. “Dek ..”. Ternyata sms
dari pujaan hatiku. Sudah 3 tahun aku mengenalnya, sebelum aku masuk ke
perguruan tinggi. Oya, namanya Diaz Saputra biasa dipanggil Iaz. Iaz adalah
cowo yang pinter di kelasnya. Dia masuk jurusan IPA.
Tiga
tahun lalu, aku masuk ke SMA dimana dia bersekolah. Awal pertemuan kita ketika
aku dan dia sedang berkemah. Dia adalah seniorku, jadi seenaknya aja dia
perintah-perintah aku. Jadi aku punya dendam deh sama dia.
Tapi
seiring berjalannya waktu, dendam itu berubah menjadi cinta. Cinta yang begitu
teramat aku rasakan. Hingga pada tanggal 24 Juli 2011 dia menyatakan cintanya
kepadaku. Dia begitu tegas, “ jawab aja iya atau tidak sekarang. Bilang iya
kalo iya bilang engga kalo engga.” Kata Iaz. Aku bingung, tapi....”iya”
jawabku. “ Makasih ya Ca, aku sayang kamu”.
Sejak
saat itu, kita menjalin hubungan yang kata orang sering disebut dengan ‘pacaran’.
Tapi semua itu tak bertahan lama. Karena Caca merasa pacaran itu tidak benar
dalam islam. Akhirnya Caca memutuskan untuk berpisah dengan Iaz yang ia sayang
sepenuh hati.
Walaupun
Caca dan Iaz putus, mereka masih saling menyanyangi. Mereka masih dekat seperti
dulu. Bahkan perasaan Caca lebih dalam dari sebelum mereka berpacaran. Begitu
pula Iaz, yang selalu perhatian dan sayang sama Caca.
Tahun
kedua Caca masuk perguruan tinggi. Sikap Iaz berubah. Tak ada perhatian bahkan
sms pun sudah tak pernah. Entah apa yang terjadi pada Iaz. Hingga ia berubah
begitu saja.
Suatu
hari Caca sakit. Iaz tahu kalo Caca sakit. Tapi dia acuh tak acuh. Bahkan
menjurus ke pura-pura tidak tahu. Masa bodoh dengan Caca. Semakin lama hubungan
itu tidak menentu lagi. Hingga suatu saat, Iaz mengatakan untuk berpisah dengan
Caca. Padahal Caca dalam keadaan yang tidak sehat. Caca sangat terpukul dengan
keputusan Iaz.
Karena
Caca yang selalu memikirkan Iaz yang tidak ada kabar. Caca bertambah sakit.
“Iaz, kamu dimana?” itu kata terakhir yang Caca katakan pada saat menghembuskan
nafas terakhir di rumah sakit.
“Halo,
Iaz kamu dimana. Caca, Iaz...Caca” telepon Yapi, sahabat Iaz dan Caca.
“
Ada apa lagi sih?” jawab Iaz ketus.
“
Caca meninggal Iaz “
Prekkk...Hp
Iaz pun jatuh berserta pemiliknya yang jatuh berlutut. Iaz pun menangis
terisak. “ Ca....kenapa kamu dulu. Kenapa bukan aku. Kenapa Ca..?!!!!!” teriak
Iaz. Iaz pun lari kerumah Caca. Sampai disana, rumah Caca sepi karena semua
orang sudah berangkat ke pemakaman untuk memakamkan Caca.
Iaz
langsung menuju pemakaman. Sampai disana, Iaz tersungkur memeluk makam Caca
yang sudah tertutup. “ Ca...Ca... jangan tinggalin aku, Ca...” isak Iaz. “ aku
sayang kamu Ca, aku yang egois Ca. Aku cuma ga mau kamu tahu... aku ga mau kamu
sedih. Ca... maafin aku.”
Tiga
hari kemudian, Iaz pun meninggalkan dunia menyusul Caca. Iaz mengidap penyakit
kanker hati yang ia sembunyikan dari Caca. Karena dia ga mau kalo Caca sedih.
Itu juga yang membuat Iaz meninggalkan Caca. Namun Iaz pun juga tidak tahu bahwa
Caca mengidap kanker tulang. Yang ia tahu Caca hanya sakit biasa.
Tuhan
tidak mempersatukan mereka di dunia. Namun Tuhan menyatukan mereka di Surga.
Cerpen
Karangan : Annisa Ainun Mahya
Facebook
: Nhytha Aniezha karunia WT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar