Laman

Selasa, 19 Mei 2015

Serumit Itukah Cinta?



Malam itu hujan turun begitu lebat, hingga pelataran kosku basah semua. Ya, begitulah aku hidup di Solo. Jauh dari orang tua dan saudara. “ Ca, kamu mau beli makan ga?” tanya teman sebelah kamar kosku. Namaku Sasa Anisa. Mereka sering memanggilku Caca. “ Ngga ah, hujan tu. Aku makan mie instan aja, hehehe “ jawabku.


‘Tut tut ada sms’ suara hpku berbunyi tanda ada sms masuk. “Dek ..”. Ternyata sms dari pujaan hatiku. Sudah 3 tahun aku mengenalnya, sebelum aku masuk ke perguruan tinggi. Oya, namanya Diaz Saputra biasa dipanggil Iaz. Iaz adalah cowo yang pinter di kelasnya. Dia masuk jurusan IPA.
Tiga tahun lalu, aku masuk ke SMA dimana dia bersekolah. Awal pertemuan kita ketika aku dan dia sedang berkemah. Dia adalah seniorku, jadi seenaknya aja dia perintah-perintah aku. Jadi aku punya dendam deh sama dia. 


Tapi seiring berjalannya waktu, dendam itu berubah menjadi cinta. Cinta yang begitu teramat aku rasakan. Hingga pada tanggal 24 Juli 2011 dia menyatakan cintanya kepadaku. Dia begitu tegas, “ jawab aja iya atau tidak sekarang. Bilang iya kalo iya bilang engga kalo engga.” Kata Iaz. Aku bingung, tapi....”iya” jawabku. “ Makasih ya Ca, aku sayang kamu”.

Sejak saat itu, kita menjalin hubungan yang kata orang sering disebut dengan ‘pacaran’. Tapi semua itu tak bertahan lama. Karena Caca merasa pacaran itu tidak benar dalam islam. Akhirnya Caca memutuskan untuk berpisah dengan Iaz yang ia sayang sepenuh hati. 

Walaupun Caca dan Iaz putus, mereka masih saling menyanyangi. Mereka masih dekat seperti dulu. Bahkan perasaan Caca lebih dalam dari sebelum mereka berpacaran. Begitu pula Iaz, yang selalu perhatian dan sayang sama Caca. 

Tahun kedua Caca masuk perguruan tinggi. Sikap Iaz berubah. Tak ada perhatian bahkan sms pun sudah tak pernah. Entah apa yang terjadi pada Iaz. Hingga ia berubah begitu saja.

Suatu hari Caca sakit. Iaz tahu kalo Caca sakit. Tapi dia acuh tak acuh. Bahkan menjurus ke pura-pura tidak tahu. Masa bodoh dengan Caca. Semakin lama hubungan itu tidak menentu lagi. Hingga suatu saat, Iaz mengatakan untuk berpisah dengan Caca. Padahal Caca dalam keadaan yang tidak sehat. Caca sangat terpukul dengan keputusan Iaz. 

Karena Caca yang selalu memikirkan Iaz yang tidak ada kabar. Caca bertambah sakit. “Iaz, kamu dimana?” itu kata terakhir yang Caca katakan pada saat menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit.
“Halo, Iaz kamu dimana. Caca, Iaz...Caca” telepon Yapi, sahabat Iaz dan Caca.
“ Ada apa lagi sih?” jawab Iaz ketus.
“ Caca meninggal Iaz “
Prekkk...Hp Iaz pun jatuh berserta pemiliknya yang jatuh berlutut. Iaz pun menangis terisak. “ Ca....kenapa kamu dulu. Kenapa bukan aku. Kenapa Ca..?!!!!!” teriak Iaz. Iaz pun lari kerumah Caca. Sampai disana, rumah Caca sepi karena semua orang sudah berangkat ke pemakaman untuk memakamkan Caca.

Iaz langsung menuju pemakaman. Sampai disana, Iaz tersungkur memeluk makam Caca yang sudah tertutup. “ Ca...Ca... jangan tinggalin aku, Ca...” isak Iaz. “ aku sayang kamu Ca, aku yang egois Ca. Aku cuma ga mau kamu tahu... aku ga mau kamu sedih. Ca... maafin aku.”
Tiga hari kemudian, Iaz pun meninggalkan dunia menyusul Caca. Iaz mengidap penyakit kanker hati yang ia sembunyikan dari Caca. Karena dia ga mau kalo Caca sedih. Itu juga yang membuat Iaz meninggalkan Caca. Namun Iaz pun juga tidak tahu bahwa Caca mengidap kanker tulang. Yang ia tahu Caca hanya sakit biasa.
Tuhan tidak mempersatukan mereka di dunia. Namun Tuhan menyatukan mereka di Surga.


Cerpen Karangan : Annisa Ainun Mahya
Facebook : Nhytha Aniezha karunia WT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar